Viral Dinar dan Dirham Jadi Alat Pembayaran di Indonesia, Bolehkah?

5 bulan yang lalu

Senin, 1 Februari 2021

Selamat hari Senin pertama di Bulan Februari! Bagaimana bulan pertama di tahun 2021 lalu? Semoga bulan ini bisa jadi bulan yang lebih baik dari bulan Januari kemarin ya.

Sebelum memulai hari, yuk kita bahas beberapa berita terhangat sepanjang weekend kemarin. Buat jobseeker, ada juga beberapa info lowongan kerja jadi baca artikel ini hingga selesai ya!


 

Akhir pekan lalu sempat viral fenomena penggunaan dinar dan dirham sebagai alat pembayaran di beberapa wilayah di Pulau Jawa. Informasi ini bermula dari cuitan akun Twitter Remaja Muslim @Pencerah__ yang mengungkap pemakaian dinar dan dirham dalam transaksi jual-beli terkonsentrasi di pusat perdagangan dengan sebutan Pasar Muamalah di daerah Depok, Jawa Barat.

“Pasar-pasar Muamalah ini berada dalam otoritas Amirat Nusantara yang dipimpin oleh Zaim Saidi, Ia dikenal sebagai pelopor gerakan kembalinya koin dinar emas dan dirham perak di Indonesia,” demikian tulis akun tersebut Kamis (28/1).

Sebelum membahas lebih lanjut, dinar dan dirham itu apa sih?

Dinar merupakan koin yang terbuat dari logam emas, sedangkan dirham merupakan koin yang terbuat dari logam perak. Keberadaan koin dirham dan dinar sebenarnya diperbolehkan di Tanah Air. Namun, penggunaannya hanya sebatas pembayaran zakat, mahar, maupun investasi.

Kok bisa muncul penggunaan dinar dan dirham sebagai alat pembayaran?

Masih bersumber dari akun @Pencerah__, penggunaan dinar dan dirham sebagai alat transaksi merupakan bagian dari aksi menolak sistem ekonomi yang berlaku di Indonesia. Alasannya, karena Zaim dan pengikutnya menilai ekosistem perdagangan yang ada sekarang tidak sesuai dengan pandangan mereka. Zaim juga diklaim telah mengampanyekan penggunaan dinar dan dirham sejak lama. 

Lalu, pedagang-pedagang di Pasar Muamalah semuanya menggunakan dinar dan dirham untuk transaksi jual beli?

Tidak juga. Berdasarkan pengakuan Anto, salah satu pedagang di Pasar Muamalah,tidak ada aturan khusus yang berlaku di pasar ini. Bahkan, berjualan di Pasar Muamalah tidak dipungut biaya sewa dan pedagang bisa berasal dari mana saja, kebanyakan berasal dari wilayah Jabodetabek.

Konsumen juga bisa menggunakan cara apa pun untuk transaksinya, mulai dari memakai koin dirham, dinar, emas, perak, rupiah hingga barter. Asalkan sesuai kesepakatan antara penjual dan pembeli.

Oh begitu… Tapi, secara aturan apakah boleh menggunakan alat pembayaran selain Rupiah di Indonesia?

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono menjelaskan, penggunaan mata uang selain rupiah dalam kegiatan transaksi di Indonesia bisa terancam dijatuhi pidana penjara maksimal 1 tahun.

Namun, terkait kasus ini Bank Indonesia akan melakukan pendekatan persuasif untuk mengedukasi masyarakat agar paham terhadap peraturan tersebut. Tindakan lebih lanjut baru akan dilakukan bila keberadaan transaksi mata uang yang dimaksud sudah benar-benar meresahkan.

Di luar Indonesia, apakah ada negara yang mengakui dinar dan dirham sebagai alat transaksi?

Ada. Saat ini, tercatat ada 9 negara yang menggunakan dinar sebagai mata uang dan alat transaksi di mana dua negara di antaranya berasal dari Eropa. Simak daftar selengkapnya di sini.

Source: kumparan